gallery Surabaya, Kamis. Insert karya Millie Huang berjudul Time is Money (10/12)
Jumat, 11 Desember 2009 16:34 WIB
Surabaya, Kompas - Respons terhadap nilai-nilai lokal dalam lingkungan kehidupan sosio-kultural masyarakat menjadi bagian dari ekspresi perupa dari berbagai kota dan daerah di Jawa Timur. Realitas itu terekam dalam serangkaian lukisan karya perupa peserta Biennale Seni Rupa Jatim 2009 yang ditampilkan di Sozo Art Space, 13-22 Desember 2009.
Pameran itu menghadirkan 20 lukisan karya 20 perupa, di antaranya Damen-Damen karya Mas Poer (Ponorogo), Masih Ada yang Tersisa karya Tri Moelyo (Madiun), Dialog karya Meirza Said (Surabaya), Maleman Selawe karya Hanafi (Gresik), dan Time is Money karya Mllie Huang (Surabaya).
Mas Poer dalam karyanya mengangkat empat figur perempuan desa yang sedang mengangkut jerami-jerami dengan sepeda onthel. Adapun Tri Moelyo dalam lukisan kolasenya yang menggunakan material kain batik, anyaman bambu, kancing baju, dan pasir berwarna putih mencoba mengimpresikan sebuah abstraksi tentang perahu yang terkesan artistik.
Respons nilai-nilai kelokalan dalam sentuhan karya seni tersebut tak hanya tampak dalam karya Mas Poer maupun Tri Moelya, melainkan pula terlihat dalam lukisan karya Meirza Said. Meirza mencoba mengeksplorasi kain sarung hingga figur dua orang sedang duduk berbincang-bincang.
Sementara lukisan karya Hanafi dalam sentuhan abstraknya menyiratkan nilai-nilai religiusitas dalam ritus keagamaan yang masih kuat di tengah komunitas masyarakat pesisiran Gresik. Sebaliknya dalam lukisan Millie Huang yang berdarah Tionghoa, ekpresi nilai yang muncul tak lepas dari ranah Tiongkok.
Kurator Biennale Seni Rupa Jatim 2009, Agoes "Koecink" Soekamto, mengemukakan bahwa karya-karya yang dipamerkan di Sozo Art Space berbeda dengan karya-karya peserta biennale yang dipamerkan di Galeri Seni House of Sampoerna.
"Dari tema mengurai akar budaya dan tradisional sebagai spirit, mereka berproses dalam pengembangan ide kreatifnya sehingga memunculkan karya-karya realis, ekspresionis, impresionis, dekoratif, dan naturalis," tuturnya. (TIF)
Millie Huang, 29 Desember 2009
